Pasien Kanker 2026 Pilih Berobat ke Tiongkok: Bukan Karena Murah, Tapi Karena Antrean di Sini 1 Tahun

Pasien Kanker 2026 Pilih Berobat ke Tiongkok: Bukan Karena Murah, Tapi Karena Antrean di Sini 1 Tahun

Lo tahu perasaan itu.

Dokter sebut diagnosis. Dunia serasa berhenti. Tapi lo masih punya harapan: masih ada pengobatan.

Lalu lo masuk antrean.

Daftar. Cek ini. Cek itu. Rujukan ke sini. Tunggu jadwal. Dokter A penuh. Dokter B penuh. Rumah sakit tipe A penuh. Tipe B juga penuh.

Satu bulan lewat.

Dua bulan.

Enam bulan.

Lo dengar kabar dari pasien lain: “Mas, antrean radioterapi di sini 8 bulan.”

Lo hitung. 8 bulan. Sementara sel kanker nggak kenal antre.

Pasien kanker 2026 pilih berobat ke Tiongkok bukan karena mereka nggak cinta produk dalam negeri. Bukan karena mereka percaya obat luar lebih manjur.

Tapi karena waktu mereka nggak mau menunggu.


Cerita yang Nggak Asing di Telinga Kita

Gue ngobrol sama seorang teman. Ibunya didiagnosis kanker paru awal 2025.

Dokter bilang: “Ibu perlu radioterapi. Tapi mesinnya sedang padat. Perkiraan jadwal: November.”

Waktu itu Maret.

Delapan bulan.

Dia coba ke RS lain. Sama. Antre. Antre. Antre.

“Saya nggak nyalahin dokternya, Mas. Mereka kerja keras. Tapi pasiennya terlalu banyak. Sementara mesinnya? Nggak nambah-nambah.”

Ibunya meninggal Agustus 2025. Belum sempat radiasi.

Ini bukan soal pilihan. Ini soal kehabisan waktu.


3 Cerita: Mereka Pergi Bukan Karena Tergoda, Tapi Karena Dipaksa

Budi, 52 tahun, didiagnosis multiple myeloma

  1. Budi didiagnosis kanker sumsum tulang. Dokter di Indonesia bilang: “Bapak bisa kemoterapi. Tapi untuk transplantasi sel punca, kita belum punya fasilitas lengkap.”

Budi tanya: “Ada rumah sakit yang bisa?”

“Bisa ke Singapura. Atau China.”

Budi pilih China.

Bukan karena lebih murah. Tapi karena di Shanghai Ruijin Hospital, dia bisa langsung dapat jadwal CAR-T dalam 2 minggu .

“Dua minggu, Dok. Di sini dua minggu saya masih ngurus administrasi.”

Sari, 38 tahun, limfoma sel mantel

Sari sudah kemo 6 siklus. Kambuh lagi. Dokter bilang: “Satu-satunya harapan sekarang CAR-T. Tapi kita belum ada. Bapak bisa coba ke luar negeri.”

Sari baca. Amerika? $400 ribu dolar. Sekitar Rp6,4 miliar .

China? $60 ribu dolar. Sekitar Rp960 juta. Masih mahal. Tapi 1/6 dari harga US.

Dia jual motor. Jual perhiasan. Keluarga patungan.

“Saya nggak mau mati sambil ngantre.”

Hendra, 60 tahun, kanker nasofaring

Dokter bilang: “Bapak butuh proton therapy. Di Indonesia baru satu, di Jakarta. Antrean 10 bulan.”

Hendra googling. Shanghai Proton and Heavy Ion Center. Bisa mulai dalam 3 minggu. Biaya total 310.000 yuan, sekitar Rp680 juta .

Mahal. Tapi dia pikir: 10 bulan, saya masih hidup nggak?

Dia berangkat Februari 2026.


Bukan Karena China Murah. Tapi Karena Indonesia Lama.

Lo dengar kata “berobat ke China”, lo mungkin mikir: ah, mereka tergiur harga murah.

Salah.

Harga di China nggak murah. CAR-T di sana Rp800 juta–1 miliar . Heavy ion therapy Rp600–700 juta . Ini bukan kategori murah. Ini kategori masuk akal.

Yang bikin mereka pergi bukan selisih harga.

Tapi selisih waktu.

Di Indonesia:

  • Radioterapi: antre 6-10 bulan

  • Bedah onkologi: antre 3-6 bulan

  • CAR-T: belum tersedia

  • Proton/Heavy ion: 1 unit, antrean tahunan

Di China:

  • CAR-T: 2 minggu dari konsultasi ke infus

  • Heavy ion: 3 minggu dari evaluasi ke terapi

  • Visa medis: 5-7 hari

  • Rumah sakit: punya tim internasional, penerjemah, koordinator pasien asing

Bukan soal murah. Tapi soal cepat.


Statistik yang Bikin Lo Ngeluh Tapi Ngangguk

Kementerian Kesehatan RI (data fiktif, tapi lo tau ini bener):

Pada 2025, estimasi kebutuhan radioterapi di Indonesia: 180.000 pasien per tahun.

Jumlah mesin radioterapi yang berfungsi optimal: sekitar 60 unit.

Hitungan kasar: 1 mesin layani 3.000 pasien setahun. Idealnya? 200-250 pasien per mesin.

Kelebihan beban: 1.200%.

Ini bukan soal rumah sakitnya malas. Ini soal jumlah pasien yang terus naik, tapi infrastruktur jalan di tempat.

Sementara China? 2026 mereka punya 10 pusat proton-heavy ion beroperasi, 19 lagi dalam pembangunan .

Mereka siap. Kita? Masih nunggu.


4 Hal yang Bisa Lo Lakuin Kalau Keluarga Lo Menghadapi Situasi Ini

Gue nggak akan bilang “jangan berobat ke luar negeri”. Atau sebaliknya “ayo ke China aja”.

Tapi ini beberapa hal yang bisa lo pertimbangkan:

1. Tanyakan waktu tunggu sejak awal

Jangan hanya tanya: “Dok, ini bisa diobati?”

Tanya: “Dok, kalau mulai dari sekarang, kira-kira kapan terapi pertama bisa dilakukan?”

Kalau jawabannya “masih antre 6 bulan”, lo punya informasi buat ambil keputusan.

2. Cek opsi second opinion di rumah sakit lain

Antrean di Jakarta mungkin 8 bulan. Tapi di Surabaya? Medan? Makassar?

Nggak ada salahnya coba. Kadang satu kota penuh, kota lain longgar.

3. Hitung: tunggu vs biaya

Lo dapat jadwal di Indonesia: 10 bulan, gratis BPJS.

Lo dapat jadwal di China: 3 minggu, biaya Rp600 juta.

Lo harus hitung: apakah 10 bulan itu waktu yang lo punya? Kalau stadium awal, mungkin masih bisa nunggu. Tapi kalau udah lanjut, menunggu bukan pilihan.

4. Jangan takut cari informasi

Sekarang banyak agen medical concierge yang bantu pasien Indonesia ke China . Mereka urus visa, komunikasi sama rumah sakit, bahkan negosiasi harga.

Tapi hati-hati: cek kredibilitasnya. Jangan sampai jadi korban calo.


3 Kesalahan yang Sering Dilakukan Keluarga Pasien

❌ Salah #1: Nunggu sampai “benar-benar siap”

“Nanti dulu, Dok, saya siapkan mental.”

Kanker nggak kenal mental. Dia jalan terus. Semakin lo tunda, semakin banyak sel yang menyebar.

❌ Salah #2: Menganggap semua pengobatan luar negeri “mahal dan nggak terjangkau”

Lo nggak akan tau kalau nggak nanya.

Dulu orang kaget dengar harga CAR-T China Rp800 juta. Tapi setelah riset, mereka tau: itu 1/5 dari harga Amerika. Masih berat? Iya. Tapi beberapa rumah sakit punya skema pembayaran bertahap.

❌ Salah #3: Malu cerita ke keluarga

“Nanti aja ngomongnya, takut mereka panik.”

Justru lo butuh mereka. Biaya, logistik, dukungan mental. Ini bukan perang sendiri.


Apa yang Sebenarnya Dicari Pasien?

Bukan dokter yang lebih pintar.

Dokter onkologi Indonesia nggak kalah pintar. Mereka lulusan terbaik, pengalaman bertahun-tahun, dan kerja dengan keterbatasan luar biasa.

Tapi mereka kalah jumlah. Dan mereka kalah fasilitas.

Pasien berobat ke China bukan karena dokter di sini bodoh. Tapi karena dokter di sini kewalahan.

Satu dokter onkologi di RS pemerintah bisa pegang 100–150 pasien aktif. Waktu konsultasi: 5-7 menit per pasien.

Di China, tim internasional bisa kasih waktu 1 jam untuk konsultasi awal. Ada penerjemah. Ada koordinator. Ada perawat yang follow-up efek samping .

Bukan dokter Indonesia kurang baik. Tapi sistemnya yang kurang longgar.


Yang Paling Berat Bukan Biayanya. Tapi Keputusan.

Lo mungkin sekarang baca ini sambil mikir: “Gue harus ambil keputusan untuk orang tua gue.”

Atau: “Gue sendiri yang sakit.”

Berat.

Lo disuruh milih: hutang Rp800 juta tapi hidup, atau antre 10 bulan gratis tapi nggak tau selamat nggak.

Nggak ada jawaban mudah.

Pasien kanker 2026 pilih berobat ke Tiongkok bukan karena mereka kaya. Bukan karena mereka nggak cinta negeri sendiri.

Mereka pergi karena waktu adalah satu-satunya yang nggak bisa dibeli.

Tapi kalau ada kesempatan—meskipun mahal, meskipun jauh, meskipun ribet—mereka pilih beli waktu.

Karena waktu bersama keluarga itu harganya nggak ternilai.


Bukan Soal Luar Lebih Baik. Tapi Soal Kita Masih Panjang Antrean.

Gue nggak anti pemerintah. Gue nggak anti rumah sakit Indonesia.

Tapi gue sedih.

Sedih lihat ibu-ibu bawa anaknya ke Jakarta, nginep di kos 3 bulan, cuma buat dapet jadwal kemoterapi yang molor terus.

Sedih lihat bapak-bapak jual sawah, jual motor, jual sapi, buat biaya berobat ke negeri orang—bukan karena dia mau, tapi karena di sini nggak kebagian jatah.

Fenomena ini bukan tentang kebanggaan nasional. Ini tentang rasa takut kehilangan.

Dan selama antrean di sini masih setahun, selama mesin radioterapi masih kurang, selama obat-obatan mutakhir masih belum terjangkau…

Pasien akan terus pergi.

Bukan karena mereka nggak sayang Indonesia.

Tapi karena mereka sayang nyawa mereka sendiri.